Ulama dan Umat Islam Harus Mengambil Alih Zakat Maal

khamsa-nabawi

Zakat adalah satu rukun Islam yang sangat penting dan terkait langsung juga dengan perintah shalat bagi orang beriman dan takwa. Tidak ada satu orang Muslim pun yang boleh menyangkal peran pokok zakat dalam Islam dimana hal ini sama pentingnya dengan perintah shalat, mereka yang menyangkal serupa dengan orang kafir atau akan diperangi. Perintah shalat bersanding dengan zakat ini disebut jelas dalam al Quran di dalam surat  2:43, 2:83, 2:110, 2:177, 2:277, 4:77, 4:162, 5:12,  5:55, 9:5, 9:11, 9:18, 9:71,  21:73,  22:41, 22:78, 24:37, 24:56, 27:3, 31:4,  33:33, 58:13, 73:20, 98:5. Dijelaskan oleh ahli tafsir bahwa Allah menunjukan keterkaitan erat dari dua ibadah pokok tersebut, maksudnya shalat tidak sempurna (tidak diterima) kecuali penunaian zakat telah dilaksanakan dengan benar, begitupula sebaliknya.

Dan selam 1400 tahun secara jelas Rasulallah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kepada generasi awal dan seluruh umat Islam untuk melakukan pembayaran zakat maal yang ditarik dalam emas dan perak murni atau dinar dan dirham (murni),  baik berdasarkan hadis yang diriwayatkan kepada kita ataupun berdasarkan fakta sejarah bahwa emas dan perak adalah uang sesungguhnya penakar atau standar harga yang digunakan manusia untuk bertransaksi atau membayar komoditas, barang dan jasa di berbagai negeri di dunia, sebelum kebangkitan Islam dan sesudahnya.

Bila kita perhatikan tulisan di media, seperti cuplikan berita ini dikatakan bahwa data menarik Potensi zakat besar, penelitian pada 2011 mengungkap potensi 2010 adalah Rp 217 triliun, dengan perhitungan PDB potensi 2015 menjadi Rp 286 triliun,” kata Ketua Baznas Bambang Sudibyo di Istana Negara Jakarta, Kamis (30/06/2016). Selama 2015 jumlah zakat yang berhasil dihimpun secara nasional baru Rp 3,7 triliun. (Suara Islam,Kamis, 30/06/2016 13:33:39 )

Dari jumlah Rp 25 triliun di perbankan, lanjut Anggito, Rp 12,5 triliun dikelola bank konvensional dan Rp 12,5 triliun di bank syariah. “Diperkirakan pada 2018 dana haji mencapai Rp 98 triliun,” ujarnya saat ditemui dalam acara penyerahan surat penjaminan dana calon jamaah haji dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di kantor LPS, Jakarta, Selasa (30/7). (Republika, Tuesday, 30 July 2013, 13:31 WIB)

Ketika uang fiat Rp 100 triliun dana haji (dan umrah) dan zakat maal ini dipindahkan dalam bentuk dinar Nabawi 4.44 gram (9999) maka akan ada kurang lebih 900.000.000 keping dinar emas murni yang beredar atau mulai muncul di tangan kaum Muslim. Maka dengan itu uang fiat Rp 100 triliun itu akan kembali kepada bank yang dapat mengakibatkan bertumpuknya uang fiat tersebut tidak berguna lagi, bank tersebut akan runtuh dengan sendirinya, karena kita umat Islam telah meninggalkan uang palsu, uang fiat ciptaan bankir global. Sudah saatnya umat Islam segera kembali menggunakan uang asli.

Zakat dalam kaitannya dengan bangsa Indonesia, sebagai wilayah ataupun negara dengan umat Islam terbesar di dunia dan paling aktif maka pengambil alihan zakat maal umat Islam ini mempunyai peran sangat penting dan sentral dimana ulama, seluruh ormas besar Islam seperti NU, Muhammadiyah atau ormas besar lainnya, tokoh Islam dan umat Islam bersatu padu dan saling membantu untuk segera melakukan pengelolaan zakat maal dan dana haji tersebut, jadi bukan lagi dalam domain pemerintah lima tahunan dan bankir rentenir lokal dan global.

Lalu dengan segera dana zakat maal dan haji umat Islam itu dialihkan ke dalam bentuk  dirham dan dinar murni.  1 Dinar adalah 4.44 gram (9999) dan 1 Dirham adalah 3.11 gram (999), ataupun dicetakan kepada berbagai pecahan dinar dan dirham Nabawi antara lain:

table_ome_mitsqal_nabawi

Dana umat berbentuk dinar dan dirham murni ini kemudian dijalankan mengikuti tradisi ilmu dan amal Islam, dikelola dalam sebuah Baitulmaal umat Islam yang berada dibawah kekuasaan dan perlindungan Sultan, dan secara jelas kita umat Islam bisa mengacu dan meminta kepada Kesultanan Yogyakarta untuk melaksanakan hal ini, lalu Sultan dapat langsung menunjuk sekelompok ulama khos, fakih, kadi untuk menyiapkan segala sesuatu tersebut baik teknis dan non teknis.

Siapapun orang Islam yang menolak atau mempersulit pelaksanaan urusan ini sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dipastikan nifak ada pada orang tersebut, maka dia bukan bagian dari umat Islam.

Sekali lagi karena Kasih Sayang dan Rahmat Gusti Allah, saran saya agar ulama khos di Indonesia melakukan musyawarah dan didukung oleh ormas besar Islam yang bersatu di bawah bendera Kesultanan yang jelas rekam jejaknya untuk dapat memahami apa yang saya bicarakan ini untuk segera bersama kami mengerjakannya. Ini adalah jalan dari Allah, bukan milik kelompok tertentu, sebagai salah satu cara ampuh dalam rangkaian muamalah Islam untuk mulai memerangi riba uang fiat dan keluar dari jerat hutang riba agar dapat segera mengembalikan kesejahteraan umat karena kasih sayang Allah.

Jadi ini adalah prioritas utama kita untuk mengembalikan model kuangan Islam dengan segera mengambil alih zakat maal sesuai sunnah dan melakukan pengelolaan dana zakat maal (infak, sedekah, wakaf, hibah) dan haji (umrah) dalam bentuk dinar dan dirham Nabawi adalah sangat penting, mari kita lakukan segera secepatnya, sebelum sistem riba bank yang semakin mencekik, merusak semua dan segera datang masa uang fiat riba runtuh. Ini adalah sebuah pernyataan perang dari Allah dan rasul atas riba. Masyaallah la quwatta illa billah, Hasbunaallah wa’nimal wakil.  (Abdullah)