Pernyataan Sidi Fudul Al Hawari As Sufi Tentang Shaykh Palsu

Shaykh-Fudul

Sidi Fudul Al Hawari As-Sufi with Sayyid Omar Abdullah (Photo by Peter Sanders)

Sulit bagi orang luar untuk memahami seberapa dalam mengganggu atas wafatnya syaikh (pembimbing) untuk seorang murid dan ada kecenderungan alami manusia untuk mengisi kekosongan besar yang ditinggalkan oleh kematian seseorang pembimbing yang duduk menghibur. Banyak tariqa menjadi turun-temurun dengan cara ini, dengan putra syaikh mengambil mantel secara aklamasi untuk mempertahankan jalan (tariqa). Wali-wali hebat dalam tariqa Darqawiyya-Habibiyya memiliki integritas yang mendalam untuk tidak puas dengan apa yang mungkin telah meyakinkan dan Habibiyya dijalankan selama puluhan tahun, bertahan pada praktek sangat kuat dan warisan besar dari syaikh abad ke-20. Selama periode ini, banyak orang mencoba untuk menyatakan diri sebagai syaikh tariqa ini, tapi Si Fudul dan lain-lain membatalkan klaim palsu.

Salah satu guru saya di Makkah Al Mukarramah, Syaikh Ismail, pernah berkata kepada saya, “tidak ada yang lebih buruk di muka bumi daripada sesorang yang melakukan klaim palsu.” Syaikh yang hidup secara spiritual setara sebuah jantung atau ahli bedah saraf, dengan kekuatan untuk menyembuhkan hati dan pikiran. Sebuah pura-pura tidak memenuhi syarat tanpa transmisi otentik, pengetahuan dan wewenang dari Allah dan Rasul-Nya, kedamaian dan berkah di atasnya, bisa mematikan dan berbahaya sebagai penipu pengobatan medis dan dapat melakukan kerusakan tak terhitung terhadap jiwa tanpa disadari atau sesat.

Moulay Al-Arabi Ad-Darqawi menulis: “Hati-hati, waspadalah jangan sampai kamu membiarkan diri tertipu oleh seseorang, untuk berapa banyak ada yang tampaknya berkhotbah mengajak kepada Allah yang pada kenyataannya mereka hanya berkhotbah untuk keinginan (nafsu) mereka.”

Syaikh Ismail juga mengatakan kepada saya singkat, “Siapapun yang mengaku menjadi syaikh ma’rifa adalah pembohong.” Syaikh sejati tidak harus mengajukan klaim. Dia begitu saja. Ini tidak berarti bahwa Syaikh sejati tidak mengakui perannya. Dia tidak harus berdiri dan menyatakan dan mempertahankan klaimnya. Satu orang berpura-pura bermantel Ibn Al-Habib telah membuat kebingungan besar ketika ia membuat klaim itu, yang mencapai sejauh Makkah Al Mukarramah, di mana saya tinggal. Si Fudul tahu pria itu dan saya telah diminta oleh seseorang yang tinggal di Makkah untuk meminta pendapat Si Fudul tentang masalah tersebut. Saya mengajukan pertanyaan. Dengan tatapan menghina, Si Fudul menggeleng dan berkata acuh, “Dia berperilaku dengan kesombongan seorang raja. Ini bukan perilaku Syaikh sejati. Orang ini hanya pernah punya wewenang untuk memanggil orang-orang Islam, tidak lebih.

Pada satu saat dalam hidupku, saya pernah (hidup) tanpa seorang syaikh dan saya akui sangat khawatir tentang hal ini karena semua risalah sufi besar menekankan pentingnya untuk (belajar) bersama dengan guru (mursyid) yang hidup. Aku bertanya Si Fudul apa yang harus dilakukan dan dia berkata, “Saat ini sangat sulit untuk menemukan syaikh (yang hidup), hampir mustahil. Gunakan hukum agama (syariat) sebagai syaikh Anda. (Sign On The Horizon/ Sidi Haroon/ Translasi, Abbas Firman)

*****

Bismillahirrahmanirrahim, bersamaan dengan  tulisan di atas ingin kami sampaikan bahwa penjelasan Shaykh Ismail, Si Fudul maupun Shaykh Moulay Hasim Al Balghiti yang kesemuanya masih hidup saat ini telah secara jelas menyanggah atas klaim yang keliru dari seseorang yang mengaku shaykh, padahal yang sebenarnya dia hanya mendapatkan ijin untuk memanggil orang-orang Islam, tidak lebih.

Tentu sanggahan mereka terhadap orang yang melakukan klaim itu adalah untuk meluruskan perihal terkait tariqa Syadzilli-Darqawi dari sanad jalur Shaykh Muhammad Ibn Al Habib. Kami sebagai murid dapat memahami bahwa ucapan atau sikap tegas mereka terhadap hal yang dijelaskan di atas bukan didasarkan kepada benci atau atau tidak suka, tetapi semata hanya karena Allah, untuk meletakan sesuatu pada tempatnya dan menjaga tradisi Syadzili-Darqawi. Semoga hal ini dapat meluruskan berbagai hal yang tidak diketahui umum secara jelas.

Tariqa Syadzili, Darqawi, Habibi, Qadiri yang bersanad silsilah kepada Shaykh Moulay Hashim Al Balghiti lalu bersambung sanad kepada Shaykh Ibn Al Habib dan seterusnya ke atas hingga kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, jadi sanad Syadzili-Darqawi-Habibi tersebut bukan kepada yang lain atau bukan juga kepada shaykh yang melakukan klaim tersebut. Kenapa saya tahu akan hal ini, karena di Indonesia saya mengawali dimulainya jalur Syadzili-Darqawi dari sanad silsilah Shaykh Muhammad Ibn Al Habib maka hal ini saya rasa perlu sampaikan sebagaimana adanya.

Melalui ijin dari Shaykh Moulay Hashim Al Balghiti maka wirid Shaykh Muhammad Ibn Al Habib yang dibacakan pagi dan petang bagi para murid (fuqara) di amalkan telah tersambung kembali dengan sebagaimana mestinya. Untuk mereka yang ingin mengamalkan untuk membaca wirid-wird, diwan ataupun hizb Syadzili-Darqawi-Qadiri dari sanad silsilah Shaykh Muhammad Ibn Al Habib tentu adabnya harus mengambil ijasah sanad dari Shaykh Moulay Hashim Al Balghiti atau duduk bersama fuqara beliau. Untuk Indonesia, pembacaan wirid tersebut  diamalkan di ribat Yogyakarta, silahkan berkumpul bagi yang mencari dan menginginkannya.