Nasihat Ulama Dalam Mencari Teman dan Adab Berteman

sufisultan91-1

Segala puji bagi Allah yang telah mengatur seluruh mahluk dengan sebaik-baiknya, menjadikan bumi dan langit menurunkan air yang tawar dari awan, lalu dengan air itu menumbuhkan biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, menakar rejeki dan makanan. Segala jenis makanan akan memelihara segala yang hidup, dan dengan memamkan makanan yang baik akan menolong mahluk berbuat ketaatan dan amal saleh

Di akhir jaman ini manusia hidup dipermudah dengan adanya teknologi yang memungkinkan kita bertemu dan berteman dengan siapa saja terutama melalui media sosial. Semua orang ingin eksis agar dikenal atau diikut banyak orang, ingin dianggap, ada juga yang terlihat baik, pandai berkata di media sosial padahal didunia nyata tidak begitu dan ada juga yang suka memasang foto dirinya dengan tokoh atau orang terkenal agar dia dianggap hebat juga atau sudah sama, agar semua ingin berteman. Islam melalui contoh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan juga penjelasan ulama yang mengikuti jalan beliau memberikan nasehat tentang bagaimana mencari teman dan adab dalam berteman, antara lain dikatakan:

Pertama, carilah teman yang berakal (cerdas). Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Janganlah engkau berteman dengan orang bodoh (jahil) dan jagalah dirinya. Banyak orang bodoh membinasakan orang berakal ketika berteman dengannnya. Manusia diukur dengan manusia bila berjalan dengannya, seperti sandal dengan sandal bila sandal itu berdampingan dengan pasangannya. Sesuatu itu berdampingan ukuran dan kemiripan dengan benda lainnya sedang hati itu menjadi petunjuk hati yang lain bila berjumpa dengannya.”

Kedua, akhlak yang baik. Orang yang memiliki akhlak buruk tidak bisa mengendalikan nafsunya di waktu marah dan bangkit syahwatnya. Orang berakal memahami segala sesuatu apa adanya sehingga jika dikuasai amarah dan syahwat atau kekikirannya atau sifat penakut, maka ia menuruti hawa nafsunya dan menentang apa yang diketahuinya. Itulah akhlak buruk. Alqomah bin Milhan ra. berwasiat kepada anaknya menjelang wafat. Ia berkata: “Hai anakku, apabila engkau ingin berteman dengan sesorang, maka bertemanlah dengan orang yang apabila engkau melayaninya dengan perkataan dan perbuatan, ia melindungimu dalam kehormatan, jiwa dan hartamu. Jika engkau berteman dengan, maka ia mengiasimu. Jika engau tidak mempunyai biaya, maka ia menanggungnya dan mencukupimu.” Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Sesungguhnya saudaramu yang sebenarnya adalah yang bersamamu dan yang membahayakan dirinya untuk memberimu manfaat dan yang ketika datang musibah, ia menolongmu ia korbankan dirinya untuk menyenangkanmu.”

Ketiga, janganlah berteman dengan orang fasik yang terus menerus melakukan maksiat besar. Allah berfirman: “Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami serta menuruti hawa nafsuna dan keadaannya itu melampaui batas.” (Al Kahfi). Orang fasik selalu melakukan maksiat secara terus menerus, mengajakmu melakukan kemaksiatan, suka melakukan ghibah (dosa besar), hatinya selalu dihinggapi iri dengki.

Keempat, bertemanlah dengan orang yang tidak tamak terhadap dunia. Berteman dengan orang tamak adalah racun dunia yang mematikan. Dalam Kitab Ihya Ulumuddin dikatakan bergaul dengan orang tamak menambahkan ketamakanmu dan bergaul dengan orang zahid menyebabkan kezuhudanmu. Ali ra. berkata: Hiduplah ketaatan-ketaan dengan duduk bersama orang yang disegani. Luqman berkata kepada anaknya: Hai anakku duduklah dengan para ulama dan mendekatlah kepada mereka dengan kedua lututmu, karena hati menjadi hidup dengan mendengarkan hikmah seperti bumi yang tandus dihidupkan dengan hujan deras.

Kelima, berkata benar. Jangan berteman dengan pendusta karena engkau tidak tahu keadaannya yang sebenarnya. Jangan berteman dengan orang kikir karena ia menghalangi untuk mendapatkan sesuatu yang paling engkau butuhkan. Janganlah berteman dengan orang penakut karena ia akan membiarkanmu dan lari di saat menghadapi bahaya.

Selanjut kita melihat apa yang disampaikan oleh Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah mengatakan ada dua puluh tiga perkara adab seorang yang bersahabat dengan temannya, yaitu :

  1. Mendahulukan teman dengan memberi harta (membantu uang), sekalipun kita sangat membutuhkannya.
  2. Bila tidak mampu berbuat demikian, berikan sesuatu yang lebih dari kebutuhan diri bila temannya berkehendak.
  3. Memberikan pertolongan secepat mungkin kepada teman untuk mencapai tujuannya, walaupun teman tidak minta tolong.
  4. Menutup rahasianya.
  5. Menutup aib temannya.
  6. Bila ada orang yang mengatakan aib temannya, jangan di dengar.
  7. Apabila mendengar orang memuji teman atau mendengar sesuatu yang menyenangkannya, sampaikanlah hal itu padanya.
  8. Apabila si teman memberi kabar, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh.
  9. Jangan suka berdebat.
  10. Panggilah nama temanmu dengan nama kesenangannya.
  11. Apabila teman berbuat baik, bersyukurlah dan berterima kasih.
  12. Melarang orang yang mencela teman yang tidak ada (ghibah).
  13. Memberi nasehat kepada teman dengan lemah lembut.
  14. Memaafkan kesalahan teman.
  15. Mendo’akan kepada teman waktu shalat baik masih hidup atau sudah meninggal.
  16. Hendaklah berbuat baik kepada keluarga teman.
  17. Jangan membebani teman untuk melaksanakan suatu hajat agar senang hatinya.
  18. Menyatakan gembira atas keberhasilan teman dan sedih atas musibahnya.
  19. Memberi salam ketika bertemu dengan teman.
  20. Bila teman datang di suatu majelis, berilah tempat yang luas untuknya.
  21. Antarkan bila teman bangkit.
  22. Diamlah bila teman berkata.
  23. Tidak mencampuri perkataanya.

Dari segala adab ini bahwa hendaklah seseorang melakukan untuk temannya dengan perbuatan yang menggembirakan, jangan sampai berbuat sesuatu yang mereka benci. Apabila engkau menginginkan agar temanmu akrab dalam menuntut ilmu, pekerjaan, agama dan duniamu dan waktu musafirmu, peliharalah lima perkara sebagai berikut :

Pertama, orang yang berakal tidak dapat berteman dengan orang yang kurang akalnya, karena akan terjadi pertengkaran dan sakit hati, musuh yang berakal lebih baik daripada teman yang tidak punya akal.

Kedua, orang yang baik kelakuan dan perangainya, jangan berteman dengan orang yang jahat, yaitu orang yang tidak dapat mengendalikan marah dan hawa nafsu. Al-Qomah Al-Atharidi berwasiat kepada kepada anaknya : Wahai anakku, bila engkau berteman pilihlah teman yang bila engkau berkhidmat kepadanya akan menghargaimu, jika engkau berteman kepadanya akan memperbaikimu, jika engkau membutuhkan biaya dia akan mau membiayaimu, temanilah orang yang bila engkau mengulurkan tangan untuk kebaikan, dia akan memberikan bantuan, apabila engkau memberi kebajikan kepadanya dia akan membalas, jila dia melihat kebaikanmu, akan mengenang, jika melihat kejelekanmu, ia akan menutupi, bila engkau berkata (benar) dia membenarkan, jika engkau memerintah (kebaikan), dia akan taat, bila engkau berselisih tentang sesuatu, dia mendahulukannu. Jadi prinsip persahabatan kita mesti memberi kepada teman tanpa mengharap balasan, tapi ikhlas karena Allah.

Ketiga, bertemanlah dengan orang shaleh, jangan berteman dengan orang yang fasiq yang selalu mengerjakan dosa besar atau kecil, orang yang takut kepada Allah tidak akan berbuat dosa terus menerus, barangsiapa tidak takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya.

Keempat, jangan berteman dengan orang yang sangat cinta kepada dunia, berteman dengan orang seperti ini akan merusak diri, karena watak itu akan mengikuti watak teman, berteman dengan orang yang gemar dunia akan gemar juga, sangat gemar dunia itu pangkal segala kejahatan.

Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam bersabda :
Hubbud-dunyaa ra-su kulli khothii-atin. Cinta kepada dunia pangkal segala kesalahan.

Kelima, hendaklah berteman dengan orang yang jujur dan jangan berteman dengan pendusta, karena dia tidak dapat dipercaya baik dalam agama maupun dunianya, kelak agamamu akan binasa. (Abdullah)