Menjaga Kemurniaan Hati Dari Penyakit Prasangka Buruk Dan Fitnah

Wayang-Wayang

Dalam kehidupan akhir zaman ini berbagai hal yang sama juga sudah pernah terjadi di jaman Nabi, salah satu yang sekarang lumrah adalah timbulnya banyak kejadian yang bersifat prasangka dan tuduhan di antara sesama orang Islam. Padahal, berbagai persoalan tersebut memerlukan penelitian, klarifikasi sehingga duduk persoalan jelas dan kita dapat menyikapinya dengan bijaksana agar tidak gampang menyalahkan dan mencari-cari kesalahan orang lain, ketika sesorang membawa berita. Prasangka buruk termasuk sifat dan akhlak buruk yang tercela dan al-Quran memperingatkan manusia agar berhati-hati tidak sampai terkena penyakit ini.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam selalu mencontohkan kepada para sahabatnya untuk berbaik sangka terhadap semua orang.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah mengutus Umar untuk menarik zakat, tetapi Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas paman Rasulullah tidak menyerahkan (zakat).

Sehingga beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat, kecuali karena dia fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya.”

“Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah mengambil zakatnya dua tahun yang lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Allah subhana wa ta’ala berfirman, dalam Al Qur’an, surah Al Hujurat : 12, Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, [1] karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain [2].

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa, Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk, tapi tajassus boleh dilakukan kepada musuh Islam.

Apakah saudaramu yg muslim sudah kau anggap kafir sehingga kau cari-cari kesalahannya? Dalam hal ini Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  juga bersabda: Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan [1] Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563 [2] dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara [3].  Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik [1] Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik [2] Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar tersebut ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat, Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata: “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. [1] Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”[2]

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind. Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu tapi saudaramu yg muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.133) “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. [1] Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. [2] Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”[3]

Semoga kita dijauhkan dari sifat tersebut di atas dan selalu dikumpulkan  bersama orang-orang yang menjaga kemurniaan hati (jiwa),  untuk selalu ingat kepada Allah disetiap saat, bukan yang selain itu, amin.

Wallahu a’alam.

1 Comment