Abbas_2003

Bismillahirrahmanirrahim. Bagi masyarakat muslim ataupun pedagang yang sudah mulai menggunakan dinar dan dirham sebagai koin barter bebas sukarela, saya perlu meluruskan kekeliruan atau ilusi dari pernyataan direktur WIN yang  tidak benar atau ngawur yaitu terkait pengertian daya beli dirham. Seperti telah kita ketahui bahwa ada Dirham Nabawi 3.11 gram (999) ada juga dirham 2.97 gram (999) terbitan WIN. Direktur WIN ini mengatakan harga jual 1 Dirham 2.97 gram sebesar Rp 70.000 dalam uang fiat dia sebut sebagai daya beli dan begitu juga dengan harga jual 1 Dirham Nabawi 3.11 gram = Rp 39.300 (02/02/2015) otomatis disebut juga daya beli dalam logika orang ini. Padahal ini tidak sepenuhnya benar, harga 1 dirham nabawi ataupun dirham wakala itu adalah harga jual, bukanlah daya beli dirham. (lihat pernyataan direktur WIN di bawah)

Secara umum yang dimaksud harga jual dirham adalah nilai bahan perak dan ongkos cetak untuk mendapatkan 1 keping koin dirham tersebut, dan jelas ini berbeda dengan pengertian daya beli dirham yang dimaksud direktur WIN. Malah yang menggelikan lagi, dengan sangat ngawur direktur WIN itu mengatakan dirham Nabawi tidak laku karena harga murah serta dia sebut sebagai perhiasan, apa betul begitu? Pandai betul memutar lidah. Kenapa direktur WIN tidak ridha? kata direktur WIN semua dirham sama, semua perak murni? Kalau ada pedagang dan pembeli yang sama-sama ridha gunakan dirham selain dirham Wakala, kenapa direktur WIN yang tidak ridha? dalil syar’i dari mana? Sepertinya saya mencium bau busuk dalam penjelasan orang ini kepada muslim yang tidak paham persoalannya.

Daya Beli

Tujuan penjelasan ini semata karena ingin mencari jalan kebenaran, bukan hal lain. Pertama-tama kita semua perlu tahu bahwa dinar dan dirham murni dengan berat tertentu dapat berlaku dalam muamalah di pasar dan dimanapun, tanpa larangan siapapun! bahkan ketika masa Kekhalifahan Turki Utsmani beredar juga berbagai koin perak dan emas negara lain dalam jumlah besar untuk perdagangan dan pasar mereka, bukan hanya koin tertentu saja yang berlaku. Jika betul niatnya ingin mengembalikan dinar dan dirham sebagai uang sunnah maka pilihan terbaik adalah dinar dan dirham murni dengan premium (ongkos cetak) yang rendah, semakin dekat dengan harga bahan semakin baik digunakan, penjelasannya berdasarkan omongan direktur WIN adalah sebagai berikut:

1 Dirham Nabawi adalah 3.11 gram (999) Rp 39.300 (03/02/2015)
1 Dirham Wakala adalah 2.97 gram (999) Rp 70.000 (03/02/2015)

Perhitungan komponen dalam harga jual koin adalah sebagai berikut, dalam 1 Dirham terdiri atas perak dan ongkos cetak, maka dapat ditemukan demikian:

Harga perak adalah Rp 10.000/ gram maka untuk Dirham Nabawi perhitungannya adalah 3.11 gram x Rp 10.000 = 31.100 dan sisanya adalah ongkos cetak Rp 8.200 maka di dapatkan Rp 39.300

Harga perak adalah Rp 10.000/ gram maka untuk Dirham Wakala perhitungannya adalah 2.97 gram x Rp 10.000 = 29.700 dan sisanya adalah ongkos cetak Rp 40.300 maka di dapat Rp 70.000

Dengan melihat perhitungan di atas, ada perbedaan yang cukup mencolok antara kedua dirham yang berbeda berat tersebut, justru dirham WIN yang lebih ringan berat koinnya tapi harga jualnya tidak wajar, artinya siapapun pembeli koin dirham WIN harus mengeluarkan uang fiat sebesar Rp 70.000 untuk 1 keping dirham 2.97 gram (999), dengan ditambahkan uang fiat Rp 10.000 maka akan mendapatkan dua koin Dirham Nabawi yang lebih berat 3.11 gram. Paham? Sekali lagi omongan direktur WIN ini menyesatkan publik, itu sama sekali bukan daya beli, tetapi itu adalah harga jual.

Setelah memahami komponen dari dirham itu, sangat mudah kita dapat melihat perbedaan niat, omongan dan perbuatan orang ini, dengan meletakan harga jual yang disebut ‘daya beli’ koin 1 dirham 2.97 gram Rp 70.000 (03/02/2015) maka dengan ongkos cetak yang tidak wajar tersebut direktur WIN bisa mendapatkan 3 gram perak murni atau 1 dirham gratis. Sungguh lucu ‘amir’ ini bilang tidak ridha ketika ada koin dirham lain dipakai dalam festival JAWARA, itu sih bukan pasar, tapi monopoli bisnis koin terselubung, kapitalisasi dari dirham dibungkus agama. Tentu ketika dengan adanya koin lain digunakan dalam festival ini, maka bisa bubar ‘daya beli’ koin WIN atau WIM, ilusi ini sudah lama ditanamkan dalam dipikiran pengguna dinar dan dirham wakala atau pedagang JAWARA.

Apakah ini yang direktur WIN sebut membangun muamalah? menegakkan syariah? mau mempergunakan tangan Sultan? Sultan tentu bisa kena getah sihir ‘daya beli’, akan sungguh memalukan jika sultan diajak bermain ‘daya beli’ dari logika ngawur direktur WIN ini. Sudah cukup pelajaran dapat kita ambil dari kasus dinar cacat Kelantan, sebuah ilusi daya beli dari dinar cacat dan sihir ‘otoritas’ atas bisnis koin dibungkus agama. Inilah sebeneranya pebisnis dinar dan dirham yang megelabui publik.

Ridha

Lalu setelah memahami hal di atas, bagaimana praktek penggunaan kedua jenis dirham tersebut dalam muamalah seperti jual beli?. Dengan mengikuti logika ‘daya beli’ direktur WIN yang sebenarnya adalah harga jual uang fiat, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dalam jual beli diketahui pedagang menjual suatu barang seharga Rp 40.000 maka ketika konsumen yang mempunyai 1 keping dirham dengan ‘daya beli’ Rp 70.000, dia akan membayar 1 keping Dirham Wakala dengan kembalian Rp 30.000 dari pedagang, jelas pedagang rugi menggunakan dirham itu dari kacamata ‘daya beli’ Rp 70.000 itu. Sedangkan konsumen dengan Dirham Nabawi cukup membayar 1 dirham tanpa pedagang harus memberikan kembalian akibat ‘daya beli’ tadi.

Lalu bagaimana dengan harga barang Rp 100.000 maka ketika konsumen yang mempunyai 1 keping dirham wakala dengan ‘daya beli’ Rp 70.000, konsumen akan membayar 1 keping Dirham Wakala dan uang fiat Rp 30.000. Sedangkan konsumen dengan Dirham Nabawi membayar 2 keping dirham dan uang fiat Rp 20.000. Dari sisi pedagang jelas mendapatkan dirham lebih banyak dengan premium (ongkos cetak) yang rendah. Sedangkan dari sisi pengguna dirham wakala, mereka harus keluarkan uang fiat Rp 70.000 hanya untuk dapat 1 keping dirham wakala yang beratnya juga dibawah Dirham Nabawi (dengan harga uang fiat Rp 39.300).

Jadi kalau betul niatnya ingin menerapkan dirham sebagai uang nyata dalam muamalah Islam, maka pengertian daya beli dalam arti yang benar adalah 1 keping dirham itu dinilaikan langsung terhadap komoditas, barang dan jasa. Karena itu dirham dengan harga jual serendah mungkin mendekati harga bahan adalah pilihan yang terbaik bagi muslim untuk digunakan sebagai uang nyata dalam memulai muamalah dan tegakan syariah. Sangat ngawur atau sebuah pembodohan publik telah dilakukan oleh direktur WIN dengan mengatakan harga jual Rp 70.000 dalam uang fiat Rupiah disebut sebagai daya beli, ilusi! (Baca juga: Saatnya Hijrah Dari Dinar Tidak Murni, Nilai Tukar Dan Perihal Buyback)

Ketika masyarakat tahu akan ilusi ‘daya beli’ dirham wakala tentu muslim yang cerdas tidak akan ridha dengan orang ini, tanpa sadar atau tidak direktur WIN menjual agama untuk mencari dunia dengan niat ‘mulia’ ingin membangun muamalah, pandai mengatakan orang lain begini dan begitu ternyata cacat itu ada dalam dirinya, direktur WIN telah melakukan praktek riba, menambahkan suatu harga jual yang tidak wajar, bahkan lebih tinggi dari nilai bahan perak, bagaimana? katanya mengharamkan uang fiat, tapi kok malah membuat ilusi? katanya ingin jadikan dinar dan dirham sebagai uang nyata?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dirham uang riba yang dimakan seseorang, sedangkan orang tersebut mengetahuinya, dosa perbuatan tersebut lebih berat daripada dosa enam puluh kali zina” (HR. Ahmad)

Pedagang atau produsenlah dan pasar yang menentukan harga barang, komoditas dan jasa terhadap daya beli dinar dan dirham, tidak ada urusan dengan harga jual 1 keping dirham yang disebut sebagai ‘daya beli’ oleh direktur WIN itu dan lebih lucu dia bilang hanya dirham dia yang laku? Sudah sinting

Dengan harga jual tidak wajar ini maka dirham wakala sebenarnya sudah masuk dalam kategori perhiasan, ongkos cetak lebih tinggi dari nilai bahan, lebih baik membeli perak murni dengan uang Rp 70.000 maka muslim akan mendapatkan 7 gram perak murni dari pada beli 1 keping dirham wakala 2.97 gram, betul?. Ditambah lagi mereka tidak mau melakukan buyback dengan alasan ‘suci’ karena ingin menjadikan dirham tersebut uang, berbeda bukan antara omongan dengan prakteknya?.

Jadi sudah jelas bagi muslim yang bertanya di luar sana, kenapa dirham yang kemurnian sama harga jual berbeda? tentu sekarang pedagang dan publik yang cerdas sudah mengerti dan tahu jawabannya dari pertanyaan saya bagaimana dengan pedagang JAWARA apa ada yang paham atau malah ikutan dungu terkena ilusi ‘daya beli’ direktur WIN?

Lalu kesimpulan apa yang dapat diambil dari penjelasan di atas, adalah sebagai berikut:

Pertama, pemahaman yang benar dari daya beli itu adalah nilai nyata dari dirham murni yang diukur langsung terhadap komoditas, barang dan jasa. Sedangkan nilai uang fiat Rp 39.300 atau Rp 70.000 atau Rp 80.0000 dan seterusnya adalah harga jual untuk mendapatkan 1 keping dirham dan dinar.

Kedua tidak benar atau sungguh menyesatkan kalau hanya dirham wakala saja yang dapat berlaku bagi pedagang atau pasar di manapun, publik bebas memilih dirham murni manapun.

Ketiga, muslim sebaiknya pergunakan dirham dengan harga jual rendah yang paling dekat dengan nilai bahan perak murni, ketika bermuamalah setiap muslim boleh menggunakan dirham manapun, setiap muslim atau pedagang yang sudah paham tentang daya beli dirham tentu tidak lagi melihat harga jual dirham yang disebut ‘daya beli’ palsu itu, mari kita hapus ilusi itu.

Semoga Allah menambahkan kita petunjuk kepada jalan yang lurus dan memperkuat niat kita semata beribadah karena ingin memurnikan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul, amin. Selamat bermuamalah. (Abbas Firman/IMN/OME/2015)

Beta version Dismiss