Kembalinya Dinar Murni, Penjelasan Nishab Zakat Mal Dan Mithqal

Gold-Dinar_Silver_Dirham_IMN

Bismillahirrahamnirrahim. Semoga diskursus singkat ini dapat membuka tabir dan menjawab pertanyaan dari saudara muslim dan umum di Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapore dan seluruh dunia.

Dari sejarah perjalanan dinar dan dirham, pencetakan dinar dan dirham merupakan tugas yang tak terhindarkan bagi Sultan atau Khalifah sebagai otoritas yang didampingi ulama dan juga dibantu oleh peneliti, ahli cetak dan ahli logam untuk menentukan dan memutuskan satuan berat mithqal dalam suatu daulah tersebut. Lambang Kesultanan menjadi simbol kebaikan mutu menurut metode peleburan dan permurnian terbaik yang dilakukan dalam wilayah Kesultanan yang berdaulat tersebut. Apabila suatu wilayah atau daerah Kesultanana telah mencapai pemurnian terbaik, maka itu menjadi model ideal bagai masyarakat yang lain dalam mencetak uang mereka, sehingga dapat digunakan untuk menguji kualitas uang logam mereka. Apabila uang memiliki kualitas dan mutu yang kurang dari standar itu, maka dianggap palsu. Sebab, dengan prosedur seperti inilah dapat dibedakan mana uang yang murni dan mana yang bercampur untuk digunakan sebagai alat bertransaksi antar manusia.

Adapun nilai dinar setara dengan 72 butir gandum (barley) berukuran sedang diriwayatkan oleh para ahli Tahqiq dan menjadi ‘ijma. Demikian juga kita tahu bahwa uqiyah syar’i bukanlah uqiyah yang populer ditengah manusia. Sebab yang dikenal di tengah manusia itu berbeda-beda karena perbedaan daerah dan yang syar’i adalah sama yang ada dalam hati, tidak ada perbedaan. Allah menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya dengan sesungguhnya. (Abbas Firman)

Secara umum diketahui bahwa nishab zakat mal adalah 85 gram emas, ini dapat di lihat dalam buku fikih zakat kontemporer dan catatan kaki tersebut, lalu dari mana nishab zakat 85 gram? apa benar dinar itu tidak murni?.  Di luar sana jawaban populer yang ditemui adalah disandarkan dari koin 1 Dinar 4.25 gram yang tersimpan di Museum Inggris, apa betul begitu? Apa cukup dengan koin itu saja? Lalu apa hubungan dengan mithqal dan 72 butir gandum barley ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya?

Tentu tidak pada tempatnya menyatakan dinar ‘resmi’ dengan hanya menempelkan gambar buku fikih zakat mal (kontemporer) dalam halaman website  sebagai dalih, bukan dalil yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai diskursus keilmuan.

Dinar dan dirham telah berjalan tiga belas tahun di Indonesia sejak dicetak pertamakali oleh IMN-World Islamic Standard, dan diketahui sebelumnya sudah ada beberapa rujukan nishab zakat mal dengan berat 89, 91, 93 dan bahkan 95 gram, untuk nishab 85 gram  baru dikenalkan kemudian, lalu apa penjelasannya? mari kita simak tulisan singkat dan lugas di bawah ini untuk dapat memperkuat apa yang kita amalkan.

Tulisan di bawah ini adalah hasil rangkuman dari pembicaraan saya dengan kolega yang cukup memahami fikih, kaidah fikih dan ushul fikih, dimana dia juga melakukan diskusi dengan beberapa teman di Al Azhar, Kairo dan seorang kawan yang duduk di Dewan Fatwa Mesir. Diskursus ini mengenai nishab zakat maal dengan melihat berbagai pendapat fikih zakat maal dari beberapa mazhab Maliki, Syafi’i, Hambali, Hanafi, dan mazhab Adzdzhahiriah dan beberapa catatan terkait Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi, Prof. Dr. Ali Gomaa dan Syaikh Utsaimin.

Diskursus ini cenderung mengarah pada fikih zakat emas dan melihat kembali istimbath Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Prof. Dr. Ali Gomaa terkait satuan dinar dan dirham serta implikasinya dalam zakat maal dan perhatian mereka dalam fatwa muamalahnya dengan tetap mengacu pada hal-hal yang tsawabit dan mutaghoyyirat.

Pembahasan krusial dalam hal ini adalah kewajiban zakat emas perak dengan standar dinar atau mitsqal. saya mulai dari ijtihad atau istimbath para ulama kontemporer mengapa mengambil nisab zakat 85 gram emas, dalam hal ini khususnya Syaikh Qardhawi dan Syaikh Utsaimin.

Secara pribadi kami menghimbau, kita tidak bisa menganggap Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Syaikh Utsaimin itu keliru atau menganggap mereka tidak hati-hati dalam penetapan nisab 85 gram (emas murni). Mereka berdua bertujuan agar kewajiban zakat lebih diutamakan, menjadi perhatian, prioritas dan memudahkan dalam menghitung ke dalam sistem mata uang kertas (fikih kontemporer).

Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Syaikh Utsaimin mengacu pada nisab 20 dinar dengan satuan 4.25 gram. Mereka sepakat dengan syarat dari emas yang di zakati adalah emas murni. Rentang nisab yang disepakati para Ulama kontemporer adalah 85-95 gram emas. Sampai disini masalah terkait nisab kami cukupkan. Seperti yang diketahui secara umum dapat dibaca diberbagai buku fikih zakat mal kontemporer bahwa menyamakan dinar dengan uang kertas.

Adapun fenomena emas tidak murni (perhiasan), Ulama berselisih dalam penentuan zakatnya. Pendapat pertama di zakati hanya sekali saja dengan menghitung keseluruhan, pendapat kedua tetap dizakati dengan menghitung kadar murninya.

Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Syaikh Utsaimin tersebut mengambil kesimpulan 85 gram dengan dalil dari 20 dinar, dan melihat beragamnya perhitungan standar dinar di Hijaz maka mengambil yang paling mudah untuk dijadikan perhitungan dan berijtihad 85 gram adalah standar paling rendah dari nisab.

Zakat emas tidak murni (perhiasan), saya pribadi lebih condong mengakomodir keduanya untuk kehati-hatian. Jika emas dalam bentuk campuran itu dominan emas murninya maka dihukumi emas murni dan dihitung zakat sesuai kadar emas murninya dan di zakati tiap tahunnya (tiap mencapai nisabnya jika mazhab hanafi). Jika ternyata dominan bahan selain emas, misalnya tembaga, timah atau kuningan maka dihukumi sebagai perhiasan dan cukup dizakati sekali saja.

Dan ini hal yang menjadi penting diketahui bersama, terkait perkataan ittifaq (konsensus, kesepakatan) pada dinar dalam kamus Syaikh Prof Dr. Ali Gomaa. maksud beliau adalah sama dengan Syaikh Dr.Yusuf Qardhawi terkait pemaknaan 4.25 gram, ini bukan angka mutlak.

Mengapa para ulama mengambil rentang 85-95 gram emas? Dasarnya masih sama yakni mithqal. Mitsqal itu satuan berat (khusus logam emas), permasalahan utamanya adalah setiap wilayah (bahkan Hijaz sendiri) punya banyak domain dalam penyetaraan ke mithqal. Dan penelusuran lebih rinci belum banyak atau hampir tidak ada, mungkin sekarang yang hanya ada hasil penelitian dan penimbangan yang dilakukan IMN-World Islamic Standard. Yang pada akhirnya para ulama ber istimbath dengan angka yang mendekati dan dibuat rentang dengan tujuan kehati-hatian.

Hal selanjutnya adalah terkait standar dinar. Berdasarkan hasil kajian saya khususnya dengan mendasarkan pada kaidah fikih zakat maal maka kita mendapati 2 timbangan mithqal yakni 4.25 gram (91.7) dan 4.44 gram (9999).

Dengan penjelasan fikih yang dimaksud adalah emas murni maka tidak masalah memilih yang mana timbangan mithqal yang dimaksud setelah dicermati berbagai hal karena tetap nishab adalah dihitung 20 dinar dan 200 Dirham.

Bahkan jika Sultan atau otoritas berdaulat itu menghendaki 1 mithqal adalah lebih dari 4,5 gram atau bahkan 5 gram emas murni, adalah sah saja, yang tentunya harus diikuti penjelasan dan berbagai pertimbangan ulama dan orang yang ahli dalam bidang cetak dan ahli logam untuk melakukan hal tersebut.

Seperti yang kita lihat 1 dinar 4.44 gram (9999) yang telah ditetapkan dan dicetak oleh Islamic Mint Nusantara dari hasil penelitian fikih, sejarah dan penimbangan, didapat hasil rata-rata dari perhitungan mitsqal, dan nishabnya menjadi 88,8 gram (mendekati nishab 89 gram).

Penjelasan tersebut dapat dibaca di dalam tulisan  Standar Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Dan Fikih Islam dan juga tulisan dari Prof Ahamed Kameel Mydin Meera Dekan dari IIUM Malaysia  dengan judul Islamic Gold Dinar: The Historical Standard

Kaidah tsabit nya adalah mithqal dan dinar (sesuai haditsnya), sedangkan gram adalah termasuk mutaghoyyir, oleh karena itu ada rentang. Dan menjadi masalah tersendiri jika dinar itu tidak murni 21 atau 22 ataupun 18 karat karat misalnya. Masalahnya jelas pada nishabnya menjadi kurang dari berat 85 gram emas murni. Dengan standarnya adalah 4.25 (91.7) bagaimana dengan zakatnya yang dihitung dalam gram? Mudah saja, mau ikut mazhab yang mana? karena dianggap bukan emas murni atau setara perhiasan. Persoalan timbul dan rumit adalah ketika Dinar 4.25 gram tidak murni ini langsung dipukul rata dan dikeluarkan zakatnya setelah 20 dinar dari mithqal tersebut. Hal ini menabrak banyak kaidah dan haditsnya.

Kesimpulan pembicaraan kami dengan teman-teman yang berada di Al Azhar, Kairo dan salah seorang teman di Dewan Fatwa Mesir adalah, dinar dengan standar 4,44 gram murni lebih dekat dengan kaidah fikih zakat dan masuk rentang 85-95 gram emas murni secara nishab.

Dan secara muamalah sesuai dengan hadits 20 dinar dikeluarkan zakatnya 1/2 dinar dan secara kemanfaatan masyarakat awwam memudahkan perhitungan karena tidak perlu menghitung kadar emasnya lagi ketika akan mengeluarkan zakatnya. Allahu’alam bishawwab

Semoga tulisan ini bermanfaat dan makin memperjelas hal mithqal dan nishab. Kami hanya hamba Allah yang lemah yang tidak lepas dari salah dan dosa, yang masih perlu banyak belajar dan beramal. Subhanakallhumma wa bihamdika asysyhadu an Laa Ilaha Ila anta astagfiruka wa atuubu ilaihi. Allahu ta’ala ‘Alam. (Sumber: Fajar Kurniawan)