Ilusi Daya Beli Dirham WIN Dalam Nisab Zakat Maal Perak

Pasar-Bandung_2007

Dinar dan dirham (murni) adalah uang yang sudah digunakan sejak masa nabi Adam alaihis salam. Salah satu tujuan dari kembali dicetak dan diedarkannya dinar dan dirham adalah untuk menjadikan kedua logam ini sebagai standar nilai terhadap komoditas, barang dan jasa dalam muamalah Islam. Selain itu hal lain yang tidak kalah penting adalah juga untuk memerangi riba dan untuk mengembalikan tata cara pembayaran zakat maal sebagai tiang Islam sebagaimana mestinya.

Mengikuti ijma’ dari empat Imam Madzhab, Imam Asy-Syafi’i dalam Kitab Al-Umm, Volume 2, halaman 40, menyebutkan bahwa tidak ada ikhtilaf tentang kewajiban menerapkan Dinar dan Dirham. Imam Asy-Syafi’I berkata: Tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) bahwasanya Dalam Zakat Emas itu adalah 20 mitsqal (20 Dinar)”.

Bahwa timbangan emas seberat 20 mitsqal sama dengan nisab dan perak seberat 200 sama dengan nisab perak dan yang dimaksud adalah emas = kandungan emas murni dan perak = kandungan perak murni.

Tulisan ini berkenaan dengan nishab zakat maal 200 dirham yang menjadi pembahasan berikutnya dan masih terkait omongan ngawur tentang harga jual dari dirham WIN yang dia sebut sebagai ‘daya beli’ oleh direktur WIN. (Lihat juga penjelasan disini).

Seperti sejak awalnya urusan ini saya juga selalu menyatakan bahwa tujuan dari pencetakan dan mengedarkan kembali dirham adalah untuk digunakan sebagai uang dalam muamalah keseharian Muslim. Karena itulah salah satu hal mendasar adalah sudah seharusnya ongkos pencetakan dirham itu ditekan serendah mungkin dan mendekati nilai bahan perak tersebut, agar dirham ini tidak digunakan sebagai alat spekulasi atau menimbulkan niat lain yang tidak lurus.

Selama ini Wakala Nusantara (WIN) mengadang-gadangkan ingin menjadikan dinar dan dirham sebagai uang ataupun pembayaran zakat maal, sebuah niat yang mulia. Sedangkan pada kenyataannnya mereka ciptakan ilusi daya beli yang pada dasarnya adalah harga jual koin dirham, kenapa saya membahas hal tersebut? Karena direktur WIN dan juga wazir ini telah membodohi publik atau muslim yang lugu dan sedang mencari kebenaran dalam hal ini.

Dalam  hal ini akan dapat kita lihat ilusi ‘daya beli’ yang terjadi pada pelaksanaan nishab zakat maal 200 dirham dalam kaitannya dengan dua jenis dirham yang beredar saat ini yaitu Dirham Nabawi 3.11 gram (999) dan Dirham 2.97 gram (999). Perhatikan tabel ini di bawah ini:

tabel-dirham_20151
Sumber data 06/02/2015

Muslim dan masyarakat luas perlu memahami ini, kenapa saya katakan ini ilusi daya beli dirham dari Wakala Nusantara? dan tentu ini bukan urusan pribadi. Direktur WIN dan wazir kesana dan kemari bernyanyi dipanggung dengan merdu mau membangun muamalah, menyuruh orang luruskan niat, membawa nama Sultan,  zakat dengan dirham dan berbagai bait lagu, namun itu terlalu manis untuk diucapkan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Dirham WIN 2.97 gram (999) Rp 70.000 dengan zakat maal 200 dirham, karena kita masih menggunakan uang fiat maka hitungan untuk melakukan zakat maal tersebut adalah Rp 70.000 x 200 dirham = Rp 14.000.000

Dirham Nabawi 3.11 gram (999) Rp 39.600 dengan zakat maal 200 dirham, karena kita masih menggunakan uang fiat maka hitungan untuk melakukan zakat maal tersebut adalah Rp 39.600 x 200 dirham = Rp 7.920.000

Untuk membayar zakat maal menggunakan dirham WIN 2.97 gram, Muslim harus mengeluarkan uang fiat sebesar Rp 14.000.00 sedangkan dengan dirham Nabawi 3.11 gram publik cukup mengeluarkan Rp 7.920.000. Bagaimana ini, daya beli?. Kata direktur WIN uang fiat itu haram, tapi ternyata direktur Win dan wazir masih doyan uang fiat? mereka membodohi publik, dengan kata lain mereka ini makan riba!  Mungkin kalau saja mereka ini tidak membawa agama dalam urusan dinar dan dirham, saya atau kami masih bisa maklum, mau diletakan di mana tarekat? mau membawa Sultan? Katanya sudah mencetak sendiri?. Mau berikan dalih apa lagi? Gusti Allah mboten sare.

Saat ini belum sepenuhnya kita semua dapat lepas dari uang fiat, apapun alasan dan kenyataannya kita saat ini mendapatkan dirham itu menggunakan uang fiat, ini kondisi darurat, tapi ditengah hal darurat ini ada yang merampok publik dengan logika bengkok, atas nama agama, kamu tidak berbeda dengan tukang obat dari Spanyol itu.

Dari penjelasan singkat ini saya harap muslim dan publik dapat melihat sebuah hal yang tidak wajar ini, sekali lagi saya beritahukan kepada semua pendukung dinar dan dirham bahwa  pernyataan direktur WIN mengenai harga jual yang dikatakan sebagai daya beli itu ternyata tidak sepenuhnya benar dan dengan melihat dari nishab zakat maal 200 dirham tersebut makin kelihatan bukan?.

Dinar dan dirham ribawi, ia adalah dinar yang di dalamnya banyak kecurangan dan penipuan, baik dari kecurangan dalam kadarnya, beratnya, kualitas emas dan peraknya, timbangannya, proses mencetaknya, dan akad-akadnya.

Saran saya kepada semua muslim dan publik untuk kembalikan saja dirham ataupun dinar cacat fikih dari Wakala Nusantara atau cari dan gunakan  dirham lain yang lebih wajar harga jual koinnya. Kerena dinar dan dirham yang dibuat dengan banyak kecurangan akan merusak pasar dan muamalah Islam. Nasehat ini hanya berguna bagi mereka yang waras dan mencari kebenaran untuk bekal akhir perjalanan menuju akhirat, kejujuran dan adab jauh lebih berharga dari dinar dan dirham, selamat bermuamalah. Hasbunallah wa’nimal wakil. (Abbas Firman/IMN/OME/2000-2015)