Dinar Emas Rupiah Sebagai Solusi Mengatasi Riba Dan Inflasi

Dinar-In-your-Hand

Indonesia terus dilanda krisis keuangan yang berkepanjangan, tanpa mata uang yang kuat seluruh rakyat Indonesia akan terus termiskinkan. Tahun 1946 1 US$ hanya Rp 1,88. Sedang sekarang sudah mendekati 1 US$ 12.000. Jadi nilai rupiah turun hingga hampir 6000 kali lipat lebih (6000%)!

Satu penyebab kemiskinan adalah inflasi, yaitu turunnya nilai mata uang dibanding dengan harga barang-barang yang jadi kebutuhan rakyat. Sebagai contoh, di Yogyakarta tahun 1990 harga sepiring nasi, telor dan ayam di warung Rp 1. 500. Di tahun 2013 ini nilainya menjadi Rp 22.000. Padahal banyak orang yang gajinya tidak naik selama kurun waktu tersebut. Kalau pun ada yang naik, tidak sebesar kenaikan harga barang.

Artinya jika dulu dengan uang Rp 135.0000 orang bisa makan 90 kali (3 kali sehari, 30 hari) pada tahun 1990, maka pada tahun 2013 dengan uang Rp 135.000 dia hanya bisa makan 6 kali (2 hari) saja! Akibat berbagai kenaikan harga barang yang sudah jadi “kebijakan” Pemerintah, maka nilai rupiah terus menurun. Jika sebelum krisis moneter tahun 1997-1998 nilai rupiah adalah sekitar Rp 2.200 per 1 US$, sekarang nilainya turun hampir menjadi Rp 12.000 per 1 US$. Ini adalah sebuah kezaliman yang dilakukan oleh sistem riba, bank dan uang kertas, sebuah pemiskinan masal melalui kebijakan kenaikan harga yang mendorong turunnya nilai rupiah atau inflasi.

Sejarah perjalanan Rupiah kita sejak awal berdirinya Republik Indonesia:

6 Maret 1946 : 1 rupiah menjadi 3 sen. Satu rupiah Jepang disamakan dengan tiga sen uang NICA yang mulai saat itu dinyatakan sebagai pengganti uang Jepang di daerah yang diduduki Sekutu.

7 Maret 1946 : Devaluasi rupiah sebesar 29,12%. Semula US$ 1 = Rp 1,88 menjadi US$ 1 = Rp 2,6525. Akan tetapi nilai tukar US$ dipasar bebas 19,50 pada Januari 1948

20 September 1949 : Devaluasi rupiah 1 US$ = Rp 3,80 Dengan catatan saldo perdagangan Indonesia sedang mengalami fase sangat tidak normal akibat kondisi perang dan revolusi

23 Oktober 1949 : Rp 100 = satu rupiah ORI (berlaku di luar Jawa dan Madura). Khusus di Jawa dan Madura, kurs penukaran adalah 5 : 1.

Februari 1952 : Devaluasi Rupiah sebesar 66,67%. Semula US$ 1 = Rp 3,80 menjadi US$ 1 = Rp 11,40. Dipasar gelap tahun 1954 1 US$ = Rp. 44,- dan tahun 1955 1 US$= Rp.48,-

25 Agustus 1959, uang harus “dikebiri” lagi. Uang kertas Rp 1.000,- (yang disebut si Gajah) dan Rp 500,- (si Macan) dinyatakan susut nilainya hingga tinggal 10%. Simpanan di bank yang nilainya melebihi Rp 25.000,- dibekukan. Maka cerita pilu pun bermunculan.

Rupiah didevaluasi dari 1 US$ = Rp. 11.40 menjadi 1 US$ = Rp. 45. Dipasar gelap 1 Us $ = Rp. 93,75 pada akhir September 1959 naik menjadi Rp. 250 akhir Desember 1959 dan Rp.550 pada akhir Januari 1960 dan Rp. 1000 pada akhir Desember 1962, Rp. 1300 akhir Januari 1963 menjadi Rp. 1900 Desember 1963

Tahun 1964 Rupiah didevaluasi 1 US$ = Rp. 250 namun dipasar gelap Januari 1964 = Rp. 2000,- Desember 1964 = Rp. 4700, Januari hingga Desember 1965 berturut-turut = Januari =Rp. 9.000, Feb = 8.500, Mar = 9000, Apr = 10.000, Mei = 10.000, Jun = 9.000, Jul = 11.000, Ags = 13.000, Sep = 12.000, Okt = 14500, Nov = 28.000, dan Desember 1965 Rp. 35.000 per Dolar AS. ‘Kejatuhan Bung Karno’

13 Desember 1965, Rp 1.000,- uang lama harus ditukarkan dengan uang baru senilai Rp 1,-. Keparahan ekonomi ini terlihat dari nilai AS $ 1 yang mencapai Rp 10.000,- uang lama (sama dengan kurs di awal 1998) atau Rp 10,- uang baru.

17 April 1970 Devaluasi 1 US $ = Rp. 378,-

Orde Baru perlahan-lahan mulai membangun perekonomian, pun dengan langkah devaluasi. Nilai rupiah dipotong 10% menjadi Rp 415,-/AS $ 1 pada 23 Agustus 1971.

“Kenop 15″ (1978) mematok AS $ 1 pada Rp 625,-. Orang miskin makin menjerit karena harga barang langsung melonjak

Karena tak sanggup menyangga rupiah, apa mau dikata, pemerintah harus memangkas lagi rupiah pada 29 Maret 1983. Dari Rp 700,- menjadi Rp 970,- per AS $ 1. Itulah mimpi buruk ketujuh.

“Pakto 88″, kependekan dari Paket Oktober 1988, berupa deregulasi perbankan dan upaya peningkatan kegairahan berinvestasi, dalam jangka pendek berhasil mendongkrak pertumbuhan. Namun, rakyat kebanyakan hanya bisa menyimpulkan, deregulasi tak lebih dari pengukuhan kejutan keuangan dua tahun sebelumnya, saat dolar AS melonjak ke angka Rp 1.600,–an.

Sejak Oktober 1997, rupiah dibiarkan mengambang bebas (free floating) sesuai pasar. Benar saja, dolar AS naik dari Rp 2.300,- ke Rp 3.100,- , ke Rp 4.000,-, melompat ke Rp 5.500,-, dan seterusnya. Pengamat pasar uang Theo Francisco Toemion mengistilahkan “rupiah terjun bebas” karena depresiasi puluhan persen tak lagi dalam kurun tahunan atau bulanan, melainkan harian.

Puncaknya adalah ketika AS $ 1 bernilai Rp 17.200,- pada April 1998, berarti rupiah terdevaluasi 750% dalam setahun. Terbayang akibat kejutan kesembilan ini, orang makan ayam goreng beserta kentang impor dan sayurannya harus membayar Rp 100.000,-, walau jika didolarkan tak lebih dari AS $ 6.’ Kejatuhan pak Harto’

Bagaimana Dinar Dan Dirham Bisa Mengatasi Riba?
Islam adalah agama yang lengkap mengatur berbagai hal terkait muamalah. Dalam hal sistem keuangan atau mata uang pun Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada kita untuk menggunakan emas dan perak, baca juga Rencana Allah Dalam Penciptaan Emas Dan Perak. Islam mengajarkan kita untuk memakai uang emas yaitu Dinar (4,44 gram emas murni, setara 1/7 troy ounce), uang perak yaitu Dirham (31.11 gram perak murni, setara 1/10 troy ounce).

Usulan saya kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah ataupun Kesultanan yang berdaulat, sebagai langkah awal untuk solusi yang bisa menjadi jalan keluar yang dapat ditawarkan bagi kita semua dan pemerintah Indonesia. Bisa saja pemerintah mengeluarkan koin 5 Rupiah emas seberat 2.22 gram (9999) atau 10 Rupiah emas  setara 4,44 gram emas (9999) setara 1/7 troy ounce emas murni, nilainya sekitar Rp 2.300.000 juta.

Mengacu kepada Oeng Repoeblik Indonesia (ORI) dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan UU No. 17 tahun 1946 yang dikeluarkan pada tanggal 1 Oktober 1946 adalah setiap sepuluh rupiah (Rp. 10,00) ORI bernilai sama dengan emas murni seberat 5 gram. Pemerintah,  Sultan atau komunitas muslim dan pedagang dapat memulai kembali uang emas  dengan tetapkan Rp 10 = 4.44 gram emas murni (9999).

Indonesia bisa mengeluarkan Koin Emas Rupiah di mana 1 Rupiah emas = 1 gram emas  murni (9999) atau pemerintah mengeluarkan uang kertas Rupiah persis seperti sekarang, namun ada jaminan emas, misalnya Rp 100.000 = 0,1 Rupiah emasn dan seterusnya. Dalam hal ini gaji atau kebutuhan pokok, barang komoditas dan jasa dapat dipatok 1 koin Rupiah emas murni (4.44 gram atau 1/7 troy ounce) jadi gaji atau apapun otomatis naik mengikuti harga emas dan perak. Sedangkan solusi untuk pecahan lebih kecil digunakan pecahan koin perak Rupiah atau Dirham.

Diruang lain untuk menopang hal tersebut di atas pemerintah  harus meninjau kembali kontrak tambang dan harus menguasai pertambangan emas dan perak,  sebab kalau hasil tambang Indonesia dikuasai asing maka Indonesia akan kekurangan emas dan perak dalam mendukung mata uangnya. Perusahaan tambang asing sebaikanya cukup mendapat porsi 10%. Tanpa emas Indonesia, secanggih apa pun alat pemodal tetap tidak akan dapat emas dan akan jadi besi tua. Jika asing tidak setuju, maka Indonesia dapat mencari pihak lain yang mau melakukannya dengan kontrak yang lebih adil.

Mungkin ada yang beranggapan uang emas atau uang yang dipatok emas sudah tidak jaman, padahal tidaklah demikian. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat hingga tahun 1970 masih mematok uang (kertas) mereka dengan emas, tiap dollar yang dicetak bisa ditukar dengan emas dengan berat tertentu.

Hari ini beberapa negara bagian Amerika Serikat seperti Utah sudah mulai memakai emas dan perak sebagai mata uangnya karena takut uang kertas dollar Amerika itu hancur sejak 2011. Kemudian hal ini diikuti beberapa negara bagian lain seperti Minesotta, North Carolina dan Idaho. Sekarang 13 negara Bagian Amerika Serikat ingin mengikuti Utah yg sudah memakai emas dan perak sebagai mata uangnya.

Stabilitas nilai emas dan perak dapat dibuktikan dari riwayat hadist sahih Imam Bukhari yang menyatakan bahwa pada zaman Nabi harga 1-2 ekor kambing besarnya 1 dinar emas (4.44 gram emas 24 karat atau sekitar Rp 2.300.000 per hari ini tanggal 3/10/2103). Setelah 1.400 tahun kemudian ternyata harganya juga 1 dinar emas. Hampir tidak ada inflasi pada uang emas meski rentang waktu 1.400 tahun lebih.

Hadits riwayat Bukhari sebagai berikut: ”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi saw. memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau, lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi saw. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung.” (H.R.Bukhari)

Pada tahun 1970 harga emas Rp 480/gram sedang ongkos naik haji Rp 182.000. Lalu 42 tahun kemudian ongkos naik haji tahun 2012 sebesar Rp 30 juta dan harga emas Rp 460.000/gram. Artinya, jika seseorang meminjamkan uang Rp 460.000 di tahun 1997, dia akan rugi besar jika dikembalikan tanpa bunga (riba) di tahun 2011 sebesar Rp 460.000, kenapa? Karena di tahun 1997, dengan uang Rp 460.000 seseorang dapat membeli 958 gram emas dan dapat mengongkosi dua orang orang untuk naik haji berikut uang sakunya.

Sementara di tahun 2011, dia cuma bisa beli 1 gram emas saja dan tidak bisa dipakai untuk naik haji. Jangankan buat naik haji, untuk membayar tiket pesawat Garuda ke Yogyakarta saja kurang. Sebaliknya jika dia meminjamkan uang dalam bentuk emas, yaitu 958 gram emas di tahun 1970, maka di tahun 2012 pun dia tetap bisa naik haji sebab tahun 2011 nilai emas naik jadi Rp 42 juta.

Jadi jika kita memakai uang emas dan perak, tanpa mengambil riba pun kita tidak akan rugi. Sementara dengan uang kertas akan sangat merugi. Jadi riba lebih mudah dikikis jika kita menggunakan uang emas dan uang perak.

Tapi sekali lagi, selama nilai Rupiah tidak jelas atau tidak dipatok dengan emas, maka Rupiah terus akan menjadi sasaran empuk spekulan uang. Di jaman Preseiden Habibie 1 US$ = Rp 7000. Di jaman Presiden Megawati dan Gus Dur jadi 1 US$ = Rp 8.000. Hari ini, dengan pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono, Rupiah telah turun mendekati 1 US$ = Rp 12.000. Itu artinya bangsa Indonesia termiskinkan akibat hancurnya mata uang kertas rupiah.

Mari kita kita mulai hijrah dari sistem riba yang akan hancur kapan saja, mulai bermuamalah dengan dinar dan dirham, kita tidak perlu repot menaikkan harga lagi. Sebab nilai uang kita otomatis mengikuti nilai-nilai barang lainnya karena sama-sama barang atau commodity money.

Saat ini Islamic Mint Nusantara sejak tahun 2000, telah mencetak dan mengedarkan dinar dan dirham melalui Dinarfirst dengan nilai tukar jual-beli yang wajar dan mengikuti harga emas dunia.  Untuk mendapatkan dinar dan dirham murni silahkan hubungi wakil Dinarfirst atau langsung CALL/WA/SMS +6287719971991. #DinarDirham #IndonesiaHapusRiba

Hal ini mungkin dapat menjadi contoh bagi pemerintah Republik Indonesia atau wilayah Kesultanan yang ingin menerapkan usul kami di atas, jika memang ingin negeri ini keluar dari penjajahan sistem riba dan pemiskinan massal akibat Rupiah kita yang terus melemah.

Mohon sebarkan tulisan kepada teman, saudara dan komunitas atau milis-milis, blogsite , dan website yang anda miliki. Jangan lupa cantumkan sumber: http://dinarfirst.org/dinar-emas-rupiah-sebagai-solusi-mengatasi-riba-dan-inflasi/

(Abbas Firman/IMN/OME/2000-2013)