Dinar Dan Dirham Uang Sepanjang Masa

DDD_688_380

Sepanjang sejarah peradaban, ada satu perang epik yang selalu dilancarkan. Perang itu tidak terlihat dan tak diketahui oleh sebagian besar orang yang dipengaruhinya. Akan tetapi semua orang merasakan efek perang ini dalam kehidupan sehari-hari. Entah di pasar atau supermarket ketika saudara mendapati harga telur atau harga kecap, minyak goreng, beras dan gula Rp 500 atau Rp 1.000 lebih mahal dibandingkan terakhir saudara melihatnya atau menerima rekening listrik dan telepon yang terus melonjak, saudara sedang merasakan perang tersembunyi ini.

Itulah perang antara mata uang dan uang, yang merupakan perang sepanjang masa. Dimasa dulu perang ini terjadi antara emas dan perak di satu sisi dan mata uang – mata uang yang semisalanya mewakili emas dan perak di sisi lain. Tak terhindarkan orang selalu mengira mata uang akan menang. Mereka memiliki keyakinan membabi buta yang sama, tapi pada akhirnya emas dan perak selalu merevaluasi diri dan selalu menang.

Untuk memahami emas dan perak atau dinar dan dirham yang merevaluasi diri secara berkala, saudara pertama-tama harus mengetahui perbedaan antara uang dan mata uang. Sepanjang masa banyak benda menjadi mata uang, mulai dari hewan, biji-bijian, rempah-rempah, kerang, mutiara dan kertas menjadi bentuk mata uang, tetapi hanya dua benda yang merupakan uang. Saudara bisa menebaknya, yaitu emas dan perak.

Ketika uang emas masih beredar, rekayasa inflasi dipaksakan lewat pengurangan kuantitas kepingan emas baik lewat pemotongan ataupun ketentuan pemerintah. Kadangkala bobotnya dikurangi atau sekeping emas berbobot dua gram dicap resmi berbobot lima gram. Dengan cap tadi kepingan itu resmi dinyatakan sebagai uang sah kerajaan. Dengan kata lain, cap penanda itulah yang memberi nilai kepingan tadi. Sehingga jumlah uang bisa berlipat ganda dari yang nihil dan ujung-ujungnya berkuranglah nilai kepingan itu.

Penciptaan uang ex-nihilo lewat kredit setali tiga uang dengan pemotongan kepingan tadi, sama-sama menambah jumlah uang yang beredar dari yang sebenarnya layak ada. Pemotongan kepingan tadi termasuk sebagai tindakan kerusakan di muka bumi.

Uang kertas. Awalnya, sebagai janji membayar uang emas kepada yang membawa uang-kertas alias resi, uang-kertas mewakili sejumlah emas. Namun yang kemudian lebih banyak diterbitkan adalah resinya ketimbang uang emasnya, akibatnya kurs tukar resi terhadap nilai uang emas terpaksa turun terus (devaluasi). Akhirnya, uang-kertasnyalah yang menjadi uang itu sendiri, alias lambang nilai benda yang nyata menjelma menjadi benda itu sendiri. Dan apabila kita lihat perkembangannya kini, uang-kertas adalah produk dari tindakan berutang, di mana acuan utangnya uang-kertas pula (atau bahkan uang maya yakni uang digital), maka ketika jumlah uang ditingkatkan melalui penggelembungan utang yang sama saja dengan memotong kepingan tadi, maka tentu akan melahirkan inflasi.

Disini kita perlu memahami apa perbedaan mata uang, uang dan uang fiat dalam konteks masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, agar kita bersiap menghadapi musuh yang tidak kelihatan ini.

Mata uang , banyak orang mengira mata uang adalah uang, ketika hari ini seseorang memberi saudara sejumlah uang (tunai), saudara meanggapnya sebagai uang. Padahal bukan, uang tunai sekedar mata uang, alat tukar yang bisa saudara gunakan untuk membeli sesuatu yang memiliki nilai, sesuatu yang kita sebut aset. Mata uang atau currency berasal dari kata current, arus yang terus bergerak kalau tidak mau mati (seumpama arus listrik). Mata uang tidak menyimpan nilai di dalamnya dan pada dirinya sendiri. Sebaliknya, mata uang adalah media bagi saudara untuk mentransfer nilai dari satu aset ke aset lain.

Uang, tidak seperti mata uang, memiliki nilai pada dan di dalam dirinya sendiri. Uang selalu merupakan mata uang, sebab bisa digunakan untuk membeli barang-barang lain yang memiliki nilai. Namun sebagian kita pelajari, mata uang tidak selalu berarti uang karena mata uang tidak memiliki nilai di dalam dan pada dirinya sendiri. Apakah saudara pikir kertas bernilai US$ 100 atau Rp 100.000?

Jawabannya tentu saja tidak. Kertas itu sekedar melambangkan nilai yang disimpan ditempat lain, atau setidaknya demikianlah adanya dahulu sebelum uang kita menjadi mata uang. Belakangan kita mempelajari dalam sejarah mata uang Islam adalah dengan standar emas dan perak atau sejarah peradaban dunia menggunakan standar emas. Namun untuk sekarang, yang perlu saudara ketahui adalah bahwa dolar Amerika atau Rupiah sekalipun diciptakan sekehendak hati tanpa pendukung apa pun, saudara mungkin menyebutnya pemalsuan uang, tetapi pemerintah menyebutnya kebijakan fiskal. Hal inilah yang kita sebut sebagai mata uang fiat, mata uang yang nilainya diciptakan dari angin.

Mata uang fiat, disebut fiat adalah keputusan arbitrer atau pengumuman oleh seseorang atau badan dengan otoritas mutlak untuk menegakannya. Mata uang yang mendapatkan nilai dari deklarasi otoritas atau pemerintah secara definisi adalah mata uang fiat. Semua mata uang yang digunakan saat ini dalah mata uang fiat.

Penjelasan awal ini mungkin terdengar aneh, bahkan ada yang menolak, tetapi ini hanya sebuah permulaan yang hanya berperan menggarisbawahi serta menciptakan pemahaman lebih besar antara mata uang dan uang. Harapan saya agar saudara dapat melihat dimana posisi dinar dan dirham sebagai uang dalam Islam dan dalam geopolitik ekonomi hari ini. Karena uang yang saudara pahami hari ini saya yakini menciptakan sebuah peluang akumulasi kekayaan ditangan segelintir orang, para bankir rentenir global.

Lalu apa artinya saudara menjadi seseorang yang memiliki ‘toleransi beragama’, ‘kebebasan, persamaan dan persaudaraan’ jika pada setiap diri saudara telah ditanamkan sebuah sistem keuangan riba dan sistem media yang tidak dapat diganggu gugat? Apa artinya, saudara bisa mempertanyakan hal ini, ‘kebebasan beragama’ ketika agama telah dikecilkan menjadi suatu kehampaan?. (Sumber: Buku Catatan Dinar dan Dirham, Petunjuk Praktis 2016, Abbas)