Bung Hatta Dan Keteladanan Seorang Besar Pemimpin Bangsa

Bung-Hatta_Boerhanuddin

Beberapa hari ini saya ada keperluan ke Jakarta, pulang ke rumah orang tua saya, sekaligus juga menengok Ibu saya yang sudah sepuh. Bersamaan dengan itu saya berkesempatan merapihkan album foto lama dari almarhum ayah saya dan menemukan kembali foto keluarga kami bersama bung Hatta, sang proklamator, di sebuah peternakan kuda keluarga kami, di Padang Mangateh, Payukumbuh, tahun 1971. Dalam foto tersebut Bung Hatta bersama dengan Harun Zein (kanan), Gubernur Sumatra Barat, Meutia Hatta (sebelah kiri, berkacamata), Amran Boerhanuddin dan juga saya masih berumur dua tahun digendong oleh ibu saya. Bung Hatta lahir di Batuhampar, Payakumbuh, Sumatera Barat.

Masih teringat jelas ketika saya berumur 11 tahun, saat itu almarhum ayah saya mengajak untuk bertemu bung Hatta di rumahnya, tapi entah kenapa saya tidak ingin pergi di hari itu. Dari situ awal saya membaca buku memoar Bung Hatta yang diberikan oleh almarhum ayah saya. Kenapa tulisan ini ingin saya angkat kembali adalah karena keprihatinan  melihat kondisi negeri atau bangsa ini yang sudah beberapakali berganti pemimpin sejak jaman Bung Karno dan Bung Hatta, terasa ada yang hilang sejak itu. Sangat ironis bila kita melihat hari ini dimana kita semakin hari kita kehilangan model dan karakter kepimpinan yang mempunyai integritas, kejujuran dan kesederhanaan, sosok semacam ini semakin luntur, dan nyaris tidak ada.

Tentu dari kita semua pernah mendengar kisah kesederhanaan bung Hatta, salah satu kisah pelajaran yang paling menarik dari seorang Bung Hatta yaitu tentang cerita Sepatu Bally impiannya. Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Sangat menyentuh karena sampai Bung Hatta meninggalpun sepatu Bally yang menjadi impiannya itu tak pernah terbeli karena uang tabungan Bung Hatta tak pernah mencukupi, selalu terambil untuk keperluan rumah tangga, membantu sanak saudara, handai taulan, dan orang-orang yang kekurangan (bahkan Bung Hatta masih bisa berbagi dalam keterbatasannya).

Seusai mengantarkan Bung Hatta ke tempat peristirahatannya, keluarganya membereskan barang-barang Bung Hatta dan mereka menemukan guntingan iklan sepatu itu di antara tumpukan bukunya. Guntingan iklan sepatu Bally menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Pada hal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain.

Bung Hatta sangat menyadari bahwa keinginan pribadinya tidak seharusnya mengorbankan orang lain dan jabatannya. Ia terlalu besar untuk meminta, terlalu arif untuk mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Sejarah tak bisa membantah, bahwa Bung Hatta adalah salah satu orang besar yang pernah dimiliki negeri ini. Di balik sosoknya yang kaku dan pendiam, dia adalah tauladan sepanjang hayat, Bung Hatta adalah figur pemimpin sejati, sosok yang telah mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik, sehingga orang pun percaya kepadanya, dan merasa nyaman dipimpinnya. Rakyat tahu Bung Hatta bisa dipercaya, dan mereka yakin Bung Hatta tidak akan mengkhianati kepercayaan mereka. Bahkan sebenarnya kalaupun Bung Hatta mengambil sedikit uang negara untuk membeli sepatu idamannya, rakyat pun pasti akan dapat memakluminya. Tetapi, sampai sebegitu pun, Bung Hatta tetap menunjukkan integritasnya yang tanpa cela hingga ia memilih menabung untuk dapat membeli sepatu impiannya, meski impian itu tak pernah terwujud sampai ia meninggal dunia.

Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak menjadi perampok atau pengkhianat bangsa, tidak korupsi, maka tidak mungkin bangsa Indonesia dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, bayi-bayi banyak yang kekurangan gizi bahkan mati karena busung lapar sementara para pemimpin palsu asik terus bermain politik, bersekutu dengan para lintah darat untuk hutang riba dan mengumbar janji palsu.

Seandainya Indonesia masih memiliki sosok pemimpin yang seperti itu, seandainya masih ada pemimpin yang rela menahan diri demi tidak melukai perasaan rakyat yang dipimpinnya, andainya masih ada pemimpin yang jujur tanpa retorika demi tidak mengkhianati kepercayaan rakyat yang telah memilihnya, maka lebih dari dua ratus tiga puluh juta rakyat Indonesia ini kelak akan menangisi kematiannya dan memohonkan doa baginya, sebagaimana dulu saat mereka mengantar kepergian Bung Hatta. (Sumber: Abbas Firman/ IMN)