Bretton Woods Yang Superfisial, Analisis Dan Evaluasi Kritis Moneter Internasional (2/2)

Minyak_Indonesia

Berakhirnya Sistem Moneter Bretton Woods
Amerika Serikat (AS) terikat dalam hukum internasional untuk menukar dollar AS dengan emas dengan kurs $35 per troy ounce. Oleh sebab itu adalah perbuatan yang ilegal dan immoral bagi AS untuk menerbitkan lebih banyak dollar daripada yang dapat mereka tukar dengan emas. Dan seperti diketahui bersama, di dalam sistem Bretton Woods, setiap uang yang dicetak diciptakan dari hutang (Mishkin 2008, 445-447, 457). Hal itu persis yang dilakukan oleh Pemerintah AS untuk membiayai Perang Vietnam.

Tekanan dan tantangan dari negara-negara, utamanya Prancis dan negara-negara Arab penghasil minyak kepada AS, terhadap sistem Bretton Woods bersama dengan beban biaya Perang Vietnam dan gejolak minyak pada tahun 1973 berperan sebagai katalisator yang substansial bagi berakhirnya sistem Bretton Woods. Tekanan itu terjadi karena defisit pada neraca pembayaran internasional.

Neraca pembayaran mempengaruhi kurs mata uang lokal terhadap dollar AS karena dari neraca pembayaran akan terlihat besarnya permintaan dan penawaran mata uang dollar AS. Jika posisi neraca pembayaran sedemikian rupa sehingga lebih banyak kewajiban membayar ke luar negeri daripada penerimaannya, permintaan dollar akan bertambah dan berarti nilai mata uang lokal menurun. Dan begitu juga sebaliknya. Anggaran penerimaan negara-negara, yang melakukan transaksi dengan dollar AS, menjadi lebih kecil dari anggaran yang mereka keluarkan karena nilai dollar yang terus menurun akibat perilaku AS yang menciptakan kekayaan dari sesuatu yang tiada (Kamasa 2012, 131-140, 173-176).

Neraca pembayaran dalam standar emas yang artifisial seperti pada Bretton Woods menuntut AS untuk displin dan hati-hati dalam pengeluaran dan peredaran uangnya. Pertama-tama, karena peredaran dollar yang terlalu besar akan menurunkan rasio antara besarnya persediaan emas dan jumlah dollar yang beredar. Menurunnya rasio ini akan menurunkan pula kepercayaan masyarakat pada dollar, yang akhirnya menyebabkan semua orang menukar dollarnya dengan emas. AS yang terancam kehabisan persediaan emas, menyadari bahwa hal ini dapat mematikan sistem yang sedang berjalan.

Kedua, peredaran dollar yang berlebihan mengakibatkan inflasi; selanjutnya ekspor akan merosot, sedang impor meningkat; hal ini akan mengakibatkan neraca perdagangan cenderung defisit. Neraca pembayaran AS telah defisit di tahun 1968, dan sepanjang tahun 1960 jarak antara kurs dollar dengan emas ($35) dan harga emas di pasar terbuka terus melebar. Hal itu memberikan tekanan yang luar biasa pada negara-negara untuk membeli emas dari AS dengan kurs $35 dan menjualnya kepada pasar terbuka. AS tidak dapat menyanggupinya karena stok emas AS turun hingga mencapai batas psikologis di bawah $10 milyar akibat moral hazard dari pencetakan dollar (Shelton 1994).

Grafik 2. Transaksi Berjalan Neraca Pembayaran AS surplus/defisit sebagai % dari PDB (keduanya dalam nominal dollar) 1958-2009

US_PDB
(Sumber: Bureau of Economic Analysis)

Tabel 1. Penurunan dollar AS dibandingkan dengan harga emas.

Tabel Emas_Dollar

Mengetahui permainannya telah terkuak, Presiden Richard Nixon secara unilateral mengakhiri sistem Bretton Woods pada 15 Agustus 1971 (Judisseno 2005, 67-68). Presiden Nixon menyebut tindakan para “spekulator” sebagai alasan pengingkaran kewajibannya daripada mengakui ketidakmampuan, atau lebih tepat disebut sebagai kejahatan moneter, AS untuk memenuhi kewajibannya dalam Pasal-pasal persetujuan IMF. Menurut Joanne Gowa hal itu dilakukan karena Pemerintahan Nixon mempunyai konsensus akan keutamaan otonomi nasional di atas pemeliharaan rezim standard moneter internasional (Gowa 1983, 13, 190).

Grafik 3. 92% devaluasi nilai dollar dalam 65 tahun

Deavaluasi Dolar_65
Sumber: http://www.surlytrader.com/devaluation-of-the-dollar/

Hal itu pada gilirannya memberikan AS kebebasan untuk mendevaluasi mata uang dollar dan menjalankan defisit secara besar-besaran (Kadlec 2012). Devaluasi itu dilakukan AS karena nilai dollar menciut terhadap nilai emas. Menciutnya nilai dollar ini dilakukan akibat memburuknya situasi ekonomi AS yang ditandai dengan besarnya angka inflasi. Sejak Nixon shock, AS mengalami inflasi yang terburuk dalam sepanjang sejarah mereka dan ekonomi yang paling stagnan sejak Depresi Besar pada era 1930-an (Lehrman 2011). Inflasi ini mengakibatkan daya beli dollar AS yang disimpan di tahun 1971 jatuh seharga 18 sen di tahun 2010, jatuh sebesar 81%, atau kehilangan 92% dari daya beli aslinya sejak 1944-2009. Dan karena dollar berkorelasi negatif dengan emas maka harga emas terus meroket dari $35 di tahun 1971 menjadi $1.700 per troy ounce di tahun 2011.

Grafik 4. Penurunan daya beli dollar

Dolar Decline
Sumber:http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424053111904007304576494073 418802358

Dengan praktek semacam ini, AS telah melanggar prinsip dasar pacta sunt servanda yang menjadi inti hukum internasional dan hubungan internasional. Pacta sunt servanda adalah prinsip yang mensyaratkan bahwa kesepakatan yang telah ditandatangani harus dipenuhi. Ketidakadilan dan ketidakbebasan dalam sistem moneter ini secara aneh dan misterius masih diterima oleh negara-negara di dunia sebagai sistem moneter internasional yang menentukan hajat hidup orang banyak.

Sistem ini merusak tatanan pasar yang bebas dan adil karena setiap persetujuan yang menyaratkan bahwa emas hanya dapat dijual dengan dollar AS merupakan pelanggaran terhadap pasar yang bebas. Dan karena dollar AS tidak dapat lagi ditukar dengan emas maka hal itu juga merupakan pelanggaran terhadap pasar yang adil.

Adalah hal yang menakjubkan mengetahui bahwa sedikit negara yang pernah merespons sejak tahun 1944 dan hingga saat ini, Pasal-pasal persetujuan IMF, untuk menunjukkan bahwa emas sejak dari dulu digunakan sebagai uang dan apabila dilarang maka itu merupakan perbuatan yang mengingkari eksistensi emas sebagai penyimpan nilai yang telah bertahan ribuan tahun. Adalah hal yang juga menakjubkan bahwa banyak negara yang gagal mengetahui karena uang yang mempunyai integritas adalah uang yang selalu mempunyai nilai intrinsik, maka moralitas telah ditinggalkan ketika uang dengan nilai intrinsik digantikan dengan uang fiat.

Dan dua tahun setelah berakhirnya Bretton Woods, AS mulai melakukan manuver yang mengagetkan dunia. Pada saat berlangsungnya Perang Arab Israel pada Oktober 1973 yang bersamaan dengan embargo minyak Arab kepada AS, muncullah sistem moneter petro-dollar menggantikan sistem Bretton Woods. Apa dan bagaimana sistem tersebut?

Lahirnya Sistem Petro-Dollar, Lautan Minyak Berfungsi Sebagai Emas
Apa yang terjadi setelah Nixon shock adalah berakhirnya konvertibilitas superfisial dollar pada emas dan berlakunya sistem petro-dollar, yaitu konvertibilitas dollar AS kali ini dikaitkan dengan lautan “emas hitam”. Dengan kata lain, berlakunya sistem petro-dollar adalah karena lautan minyak bumi yang kini berfungsi sebagai emas.

AS menginginkan minyak berfungsi sebagai emas dalam sistem moneter petro karena mengetahui bahwa dunia yang terus mendesak penukaran akumulasi dollar mereka dengan emas akan meruntuhkan sistem Bretton Woods dan mengakhiri hegemoni dan keuntungan bagi AS.

Pada tahun 1970-an terlihat bangkitnya kekuatan ekonomi di Arab Saudi dan negara-negara pengekspor minyak lainnya di Jazirah Arab. Perang Arab-Israel pada tahun 1973 membuka kesempatan bagi negara- negara Arab yang kaya minyak untuk menekan negara-negara Barat yang pro-Israel, terutama AS. Pada tanggal 19 Oktober 1973, Arab Saudi memerintahkan penurunan produksi sebanyak 25% dan memulai politik embargo minyak terhadap AS dan beberapa negara industri utama lain(Suwartoyo 1992, 482). Tindakan tersebut diikuti negara-negara Arab lain. Kepanikan timbul di kalangan pengusaha-pengusaha pengilang minyak internasional dan negara-negara industri yang sangat tergantung pada minyak, dan mengakibatkan makin melonjaknya harga. Harga minyak mengalami peningkatan sebesar 400% dari $3 menjadi $12 per barel dalam satu tahun sejak dimulainya perang Yom Kippur yang bersamaan dengan politik embargo minyak terhadap AS (Hosein 2010).

Kenaikan harga minyak ini tidak hanya menguntungkan perusahaan- perusahaan minyak AS dan Inggris tetapi juga, yang lebih penting, negara-negara Arab penghasil minyak pada umumnya. Hal ini menciptakan peluang yang kemudian secara cerdas dieksploitasi oleh AS untuk mencari jalan mengganti sistem moneter superfisial yang berdasarkan emas dengan sistem moneter baru yang berdasarkan minyak bumi.

Menlu AS Henry Kissinger sukses bernegosiasi dengan Raja Faisal dari Arab Saudi pada awal 1974 untuk mendapatkan kesepakatan yang mensyaratkan minyak dijual hanya dengan dollar AS (Spiegel 1985, 267). Kesepakatan ini membuat Arab Saudi menjadi begitu kaya dan kemudian membujuk negara-negara Arab penghasil minyak lainnya untuk bergabung. Ini adalah kelahiran dari petro-dollar.

Pada tahun 1975 negara-negara OPEC setuju untuk memberikan harga ekspor minyaknya hanya dengan dollar AS. Karena minyak adalah barang yang berharga bagi suatu negara dan karena kebanyakan negara adalah importir minyak, maka persetujuan ini menciptakan permintaan yang terikat pada mata uang dollar di pasar global. Keadaan ini membawa pada overvaluation dollar AS di pasar uang internasional. Dan oleh sebab itu, nilai dollar AS sekali lagi secara artifisial bertahap naik, diperkuat, dan dipelihara (Iseri 2009, 139).

Diplomasi Kissinger berhasil mendapatkan persetujuan bahwa penghasilan tambahan (windfall profit) yang kini datang kepada negara-negara Arab penghasil minyak akibat dari meroketnya harga minyak sebagai konsekuensi dari merosotnya nilai dollar AS akan diinvestasikan di bank-bank internasional dalam bentuk deposito berjangka. Negara-negara Arab akan menginvestasikan petro-dollar dalam bentuk surat-surat utang Pemerintah AS, misalnya.

Hal itu dinamakan oleh Kissinger sebagai daur ulang petro-dollar (Engdahl 2003, 3-4) yaitu pendaurulangan aset-aset kekayaan petro- dollar negara-negara pengekspor minyak kepada negara-negara pengimpor minyak untuk membeli minyak hanya dengan dollar AS. Uang petro dari negara-negara pengekspor minyak tersebut kemudian akan menjadi sumber pembiayaan esensial bagi perekonomian pasar maupun industri yang berkembang di seluruh dunia. Konsekuensi logisnya, pasar keuangan internasional kembali dikendalikan oleh dollar AS yang dikaitkan dengan minyak. Dengan cara demikian, petro-dollar telah merubah mereka menjadi tengkulak yang menawarkan faidah.

Quid pro quo dari persetujuan ini adalah perjanjian pertahanan rahasia di mana AS akan menjamin keamanan rezim Saudi, keamanan ladang minyak, dan juga suplai senjata (Engdahl 2004, 150-156). Mengingat Perang Dingin berlaku pada masa itu dan terdapat kemungkinan bahwa Uni Soviet berusaha untuk membiayai revolusi yang akan menggulingkan para monarki Arab dari tahtanya, maka ini merupakan diplomasi yang brilian dari Kissinger.

Raja Arab Saudi nampaknya tidak menyadari bahwa ia telah menandatangani perjanjian yang abnormal. Sebagai akibat dari persetujuan tersebut, maka minyak berfungsi sebagai emas atas nama dollar AS. Persetujuan ini benar-benar bertentangan dengan prinsip pasar yang bebas dan adil. Setiap persetujuan bahwa minyak hanya dapat dijual dengan dollar AS merupakan pelanggaran terhadap pasar yang bebas. Dan karena dollar AS tidak dapat lagi ditukar dengan emas maka hal itu juga merupakan pelanggaran terhadap pasar yang adil. Dengan sistem petro-dollar, AS tidak lagi memperhatikan hubungan antara cadangan emas dengan jumlah sirkulasi dollar AS. Harga emas dapat terus naik tanpa menimbulkan ancaman nyata bagi dollar AS. Sejak tahun 1975, harga resmi emas sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Sejak itu pula harga emas meroket dari $35 per troy ounce (oz) di tahun 1971 hingga mencapai $1.800 di tahun 2012.

Dengan sistem petro-dollar ini pula, AS mendapatkan tiga keuntungan dengan segera. Pertama, sistem ini meningkatkan permintaan dollar AS secara global. Kedua, sistem ini meningkatkan permintaan surat-surat utang AS. Ketiga, sistem ini membolehkan AS untuk membeli apapun, utamanya minyak bumi sebagai komoditi utama dunia, dengan dollar yang dapat ia cetak sebanyak mungkin. Bahaya terbesar dari sistem moneter petro adalah membiarkan mereka yang mengendalikan sistem perbankan dunia untuk menciptakan uang sebanyak mungkin yang mereka inginkan. Uang (kekayaan) kemudian dapat digunakan untuk mengeksploitasi mereka yang melawan the financial ruling class dan memperkaya mereka yang mendukungnya. Faktanya, banyak orang di dunia sudah hidup dalam keadaan yang sengsara akibat imperialisme moneter.

Pandangan Dari Masa Depan
Menurut Adam Smith, kisah tentang uang, kebanyakan adalah kisah tentang penipuan dan kecurangan yang dilakukan oleh penerbit uang (Shelton 1994, 165).Sistem moneter saat ini menggunakan uang artifisial untuk mengantikan uang asli . Hal itu adalah manifestasi penipuan dan kecurangan (fraud). Uang artifisial sangat berbeda dengan uang asli karena uang asli mempunyai nilai intrinsik, sedangkan uang artifisial tidak. Satu-satunya nilai dari uang artifisial diberikan kepadanya oleh kekuatan-kekuatan pasar. Nilai pasarnya akan bertahan sepanjang dan hingga ada kepercayaan publik dan permintaan terhadapnya di pasar. Permintaan itu sendiri berdasarkan kepercayaan, dan kepercayaan adalah sesuatu yang dengan mudah dapat dimanipulasi atau direkayasa (Judy 1994, 340). Indonesia mengetahui kenyataan ini dengan cara yang pahit ketika mengalami krisis moneter tahun 1997. Segala sesuatu yang secara serius menganggu kepercayaan publik akan menyebabkan gelombang spekulatif yang akan menyebabkan melelehnya uang artifisial (dalam bentuk kertas, plastik, dan uang elektronik). Soft currencies, seperti rupiah, akan bubar apabila hard currencies, seperti dollar, meleleh.

Selama ini AS terus mengulur waktu mencegah melelehnya dollar. Skenario ‘kiamat’ tersebut untuk sementara waktu dicegah dengan quantitative easing (QE). QE adalah penciptaan uang dengan cara injeksi likuiditas ke sistem perbankan yang terancam bangkrut karena praktek kejahatan perbankan yang ugal-ugalan (imprudent) (Mahathir 2011). Dengan berlakunya QE 1, 2, 3, dan 4 sejak 2008 hingga 2012 yang berjumlah total sekitar $7 triliun maka AS tidak perlu lagi mencetak uang kertas karena hal tersebut merupakan suatu proses yang rumit dan membutuhkan banyak biaya. Yang Federal Reserve Bank butuhkan adalah cukup menulis satu cek dan menyerahkan cek itu kepada bank. Apabila cek itu sampai ke bank ia masih belum menjadi bentuk uang. Hanya setelah bank meminjamkan nilai cek itu dan orang ramai meminjamnya dari bank dan akan ada kontrak yang sah untuk membayar pinjaman maka itu akan menjadi uang. Sebagian dari uang dalam sistem moneter yang ada sekarang terjadi dengan proses demikian.

Konsekuensi logis dari guyuran QE ini adalah hutang AS akan semakin menggunung. Pada tahun 2013, utang AS sudah mencapai $15,977 triliun (sekitar Rp 150 kuadriliun) dan menyebabkan penutupan pemerintahnya selama 16 hari. Dan Pemerintah AS sepakat untuk menaikkan pagu utangnya dari $14,300 triliun menjadi maksimal $16,700 triliun yang berarti uang baru dapat terus diciptakan hingga mencapai batas pagu untuk kemudian dibuat batas pagu yang baru lagi demikian dan seterusnya.

Apabila AS gagal membayar utang dan defisit anggarannya maka ia akan mengalami gagal bayar. Seperti yang ditulis oleh Ralph Benko (2011) dan Judy Shelton (2009) jika AS gagal bayar maka akan muncul katastrofa dunia keuangan global dan semakin membuat dollar AS meleleh (kehilangan nilainya). Dan sebagaimana diketahui bersama, daya beli dollar AS telah meleleh hingga 92% dalam kurun waktu 65 tahun (1944-2009).

Persiapan Dan Peringatan Bagi Muslim dan Masyarakat Umum
Dengan demikian besar kemungkinan, melelehnya dollar akan membawa keruntuhan kepada seluruh mata uang kertas di dunia karena saat ini lebih dari 60% dari seluruh cadangan mata uang asing dalam bentuk dollar. Apabila dollar mulai tidak berlaku (demonitized), makan sistem uang fiat akan bubar dan memunculkan sistem keuangan yang baru. Sistem keuangan yang baru adalah dalam bentuk uang elektronik, ketika uang tidak dapat dilihat dan tidak dapat dipegang. Faktanya, era tanpa uang tunai ini sudah muncul saat ini dengan variasi namanya. Uang elektronik kini ini sudah menguasai 70% sistem keuangan dunia dan digunakan terutama pada transaksi uang dalam jumlah besar sementara uang kertas tetap dipergunakan untuk transaksi skala kecil.

Sistem moneter elektronik ini tidak lagi membutuhkan alat cetak, tinta, dan kertas. Yang dibutuhkan ialah keahlian dalam mengetik data masuk dan data keluar. Dengan sistem ini, otoritas moneter mengetahui berapa banyak uang yang dimiliki oleh warga, darimana didapatkan, untuk apa digunakan, dan ke mana saja dipergunakan. Ini adalah bentuk sistem spionase keuangan yang sangat canggih dan terencana dengan hebat. Selain itu, uang jenis ini mempunyai bahaya yang lebih besar dibandingkan sistem moneter sebelumnya karena dasar transaksi hanya pada transfer dan nilai uang dapat dibuat dan diubah dari ketikan byte di komputer. Dan setiap saat otoritas moneter dapat menutup rekening warga yang tidak nyaman dengan sistem ini. Trend ini adalah ancaman bentuk kediktatoran moneter yang harus diantisipasi dan diwaspadai. (Sumber: Frassminggi Kamasa, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Editor: Abbas Firman)